indonesia234

May 21, 2008

KHILAFAH: Wajib Ditegakkan Dan Perlu

sumber : http://khilafahislam.multiply.com/journal/item/13

Blog Entry KHILAFAH: Wajib Ditegakkan Dan Perlu Jun 13, ’07 7:26 PM
for everyone
Di tengah ratusan tokoh cendekiawan dan politisi Muslim yang diundang ICMI dalam acara pidato politik Anwar Ibrahim, mantan Timbalan Perdana Menteri Malaysia, di Jakarta beberapa waktu lalu, mantan biarawati yang kini ngetop sebagai muballighah, Ibu Hj. Irene Handono, melontarkan pandangan, “Orang Katolik bisa bersatu di seluruh dunia dengan Pausnya. Kita umat Islam sebenarnya mempunyai sistem yang bisa menyatukan umat di seluruh dunia, yakni sistem Khilafah.  Maka, mari kita tegakkan Sistem Khilafah!”

Pandangan yang cukup berani tersebut cukup menarik perhatian para hadirin. Pasalnya, biasanya seruan yang lantang dan lugas seperti itu khas ‘milik’ anak-anak muda yang tergabung dalam Hizbut Tahrir. Apalagi pada kesempatan sebelumnya, saya, dengan identitas dari Hizbut Tahrir Indonesia, juga menyebut kata khilafah dalam menerjemahkan teks hadis yang sebagian kalimatnya disitir Anwar Ibrahim.

Wajarlah jika selesai acara, sekitar lima cendekiawan dan anggota parlemen Malaysia, yang notabene adalah rombongan Anwar, menyempatkan beramah-tamah menemui saya. Salah seorang dari mereka menanyakan, “Ramai[1] ahli[2] Hizbut Tahrir di sini?”

Saya jawab, “Ya, ramai!”

Ya, penegakan Khilafah bukanlah kewajiban Hizbut Tahrir semata, tetapi kewajiban kaum Muslim secara keseluruhan; baik yang ada di Indonesia, Malaysia, Timur Tengah, maupun di Eropa dan Amerika; baik pria maupun wanita. Sebab, Khilafah—yang dalam istilah hadis dan fikih juga disebut Imamah—adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syariat Islam dan mengemban Islam ke segenap penjuru dunia.

Negara Khilafah yang runtuh pada tahun 1924 di kota Istambul setelah eksis selama sekitar 13 abad sejak didirikannya pertama kali oleh Baginda Rasulullah saw. di kota Madinah ini harus didirikan lagi. Ini termasuk perkara yang dalam fikih disebut, “ma‘lûm[un] min ad-dîn bi dharûrah.” Sebab, umat Islam wajib bersatu di bawah pimpinan seorang khalifah, dan fakta penderitaan umat akibat perpecahan mereka dalam lebih dari 50 negara memerlukan kembali eksisnya kekuasaan yang menjalankan pemerintahan sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad saw., Khilâfah ‘ala minhaj[in] nubuwwah.

Abu Hazim mengatakan:

Aku telah mengikuti majelis Abu Hurairah selama lima tahun. Aku pernah mendengarnya menyampaikan hadis dari Rasulullah saw. yang besabda:

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ اْلأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ. قَالُوا: فَمَا تَأْمُرُنَا؟ قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ اْلأَوَّلِ فَاْلأَوَّلِ، أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ

“Dulu Bani Israil selalu dipimpin/diurus oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, datang nabi lain menggantikannya. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku; yang ada adalah para khalifah yang banyak.” Para sahabat bertanya, “Apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Beliau menjawab, “Penuhilah baiat yang pertama; yang pertama itu saja. Berikanlah kepada mereka haknya, karena Allah nanti akan menuntut pertanggungjawaban mereka atas rakyat yang diurusnya.(HR al-Bukhari dan Muslim).

Tatkala Baginda Rasulullah saw. wafat, para sahabat sempat menunda kewajiban mengebumikan jenazah Rasulullah saw. dan mendahulukan pengangkatan seorang khalifah, pengganti beliau. Persidangan mereka sampai memakan waktu 2 hari 3 malam.

Ya, para sahabat, generasi terbaik umat ini—yang menerima langsung agama ini dari Baginda Rasulullah saw.—memandang pemilihan khalifah (yang terpilih kemudian Abu Bakar ash-Shiddiq ra.)—sebagai pengganti beliau dalam urusan pemerintahan dan kepemimpinan kaum Muslim lebih mendesak daripada mengubur jenazah beliau. Bahkan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. memerintahkan pasukan kaum Muslim untuk mengepung enam sahabat yang diberi amanah untuk mengangkat khalifah pengganti beliau dan memenggal leher orang yang menolak kesepakatan mayoritas di antara 6 orang itu atas seseorang dari mereka untuk menjadi khalifah.

Selanjutnya, mengangkat seorang khalifah untuk menggantikan khalifah yang telah mangkat menjadi tradisi umat Islam dari masa ke masa. Tentu, itu bukan sekadar tradisi, tetapi lebih merupakan kewajiban agama.

Para ulama dan fukaha telah menjelaskan hal ini dalam kitab-kitab fikih mereka. Syaikh Ali Bel Haj, salah seorang ulama Aljazair yang merupakan tokoh FIS (Front Islamique du Salut)—yang kemenangannya dalam Pemilu tahun 1990 diaborsi oleh rezim Benjedid beserta militer arahan Prancis—mengumpulkan pendapat para ulama fukaha tentang kewajiban menegakkan kembali Khilafah sebagai kewajiban agung dalam agama ini.

Beliau antara lain mengutip pernyataan Imam al-Mawardi dalam kitabnya, Al-Ahkâm as-Sulthâniyyah, “Mengangkat seorang imam (khalifah) yang akan menjadi penguasa urusan dunia dan pemimpin umat adalah sebuah kewajiban. Dengan itulah agama dapat terjaga dan kekuasaannya berjalan sesuai dengan hukum-hukum agama.”

Di halaman lain, juga dikutip penjelasan al-Mawardi tentang 10 tugas khalifah yang meliputi bidang politik, keamanan (dalam maupun luar negeri), administrasi, keuangan, dan peradilan.

Imam Ibn Hazm, dalam Al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwal wa an-Nihal (4/87) juga menyatakan, “Seluruh kalangan Ahlus Sunnah, Murjiah, Syiah, dan Khawarij telah bersepakat mengenai kewajiban adanya Imamah (Khilafah).”

Ibnu Hazm menambahkan, “Hanya kelompok Najdat dari kalangan Khawarij yang menyatakan kefarduan Imamah tidak mengikat.” Karenanya, menurut Ensiklopedi Ijmak yang diterjemahkan oleh KH. Sahal Mahfudz dan KH. Mustofa Bisri, mereka itu menyimpang dari ijma.

An-Nawawi, dalam Syarah Muslim (12/205) mengatakan, “Mereka (para imam mazhab) telah bersepakat bahwa kaum Muslim wajib mengangkat seorang khalifah.”

Imam al-Haramain dalam kitabnya, Ghiyâts al-Umam, juga mengatakan, “Telah terdapat ijma tentang kewajiban mengangkat Khalifah yang mengatur kehidupan manusia dengan Islam.”

Berdiam diri terhadap kewajiban mengangkat seorang khalifah bagi kaum Muslim adalah suatu perbuatan maksiat yang paling besar. Sebab, itu berarti berdiam diri terhadap salah satu kewajiban yang amat penting dalam Islam. Pasalnya, tegaknya hukum-hukum Islam, bahkan eksistensi Islam dalam kancah kehidupan, bertumpu padanya. Oleh karena itu, seluruh kaum Muslim akan berdosa besar jika berdiam diri terhadap kewajiban mengangkat seorang khalifah. Kalau ternyata seluruh kaum Muslim sepakat untuk tidak mengangkat seorang khalifah, maka dosa itu akan ditanggung oleh seluruh kaum Muslim di seluruh penjuru bumi.

Lebih dari itu, fakta menunjukkan, bahwa tanpa Khilafah, kemaksiatan merajalela, bahkan terstruktur secara sistematis; baik dilakukan oleh individu, kelompok massa, maupun negara. Buah dari semua itu adalah kemiskinan dan kesengsaraan kaum Muslim di tengah-tengah kekayaan alam mereka yang melimpah-ruah, kelemahan mereka di tengah-tengah sumberdaya manusia yang besar yang seharusnya merupakan kekuatan adidaya. Muncul pula sikap pasrah atas berbagai belenggu dan dominasi orang-orang kafir minoritas di seluruh negeri mereka.

Kita, di negeri Muslim terbesar ini, sungguh sering mengelus dada melihat tingkah pola para penguasa Muslim di Timur Tengah yang memimpin lebih dari 200 juta rakyat Muslim. Mereka tidak mampu melindungi kaum Muslim Palestina yang dari tahun 1920-an hingga hari ini terusir dari negerinya sendiri oleh keganasan bangsa kecil perampok yang bernama Israel, yang hanya sekitar 6 juta orang. Kita sedih, para penguasa Muslim yang bersidang dalam KTT OKI tahun 1993 di Maroko ternyata justru tidak membahas bagaimana caranya menolong 30.000 Muslimah Bosnia yang diperkosa secara brutal oleh para bajingan Serbia.

Kini, kita semakin sedih tatkala penguasa negeri Muslim terbesar ini begitu lamban bereaksi terhadap jutaan manusia yang meninggal dan menderita oleh amukan gempa dan badai tsunami di bumi Serambi Makkah di akhir tahun 2004. Tampak sekali, penguasa tersebut bengong di tengah-tengah kegesitan para pemimpin kafir yang menerjunkan relawan dan militernya lengkap dengan kapal-kapal perang dan kapal induknya ke bumi Nanggroe Aceh Darussalam.

AS yang menginjakkan ratusan ribu sepatu lars-nya di bumi Irak tampak bagai manusia humanis yang penuh dengan kebaikan hati dan kedermawanan. Sementara itu, penguasa yang tidak jelas solusinya itu masih gagap dan kebingungan. Mereka lalu menyerahkan rekonstruksi Aceh (dan seluruh negeri ini) kepada para peserta KTT Tsunami dan Infrastruktur. Padahal, catatan sejarah menunjukkan, bahwa negara manapun yang direkonstruksi oleh lembaga keuangan dunia pasti tambah bangkrut. Lalu apa yang kita harapkan dari para pemimpin seperti itu?

Ya, kita perlu sistem Khilafah dan para pemimpin yang sekaliber para khalifah pada masa lalu, yang merupakan kader-kader gemblengan Baginda Rasulullah saw. Kita perlu Khalifah semacam Umar bin al-Khaththab yang mengatakan, “Sekiranya ada keledai di Irak jatuh terantuk batu, aku khawatir Allah Swt. kelak akan menghisabku lantaran aku tidak meratakan jalan di sana.”

Kita perlu pemimpin seperti Umar bin Abdul Aziz yang mampu membangkitkan ekonomi negara dalam tempo sekitar 2 tahun tanpa bantuan utang dari luar negeri.

Kita perlu pemimpin seperti Al-Mu‘tashim Billah yang begitu tanggap menyelesaikan masalah pelecehan seorang Muslimah oleh pejabat Romawi di kota Amuria dengan cara menaklukkan kota tersebut.

Kita perlu pemimpin seperti Muhammad al-Fatih yang mampu menaklukkan kota benteng terkuat di dunia, Constantinopel.

Kita perlu pemimpin seperti Sulaiman al-Qanuni yang mampu menolong penguasa Prancis dengan keunggulan dan keagungan sistem Negara Khilafahnya.

Keinginan ini harus menjadi keinginan bersama kaum Muslim, bukan sekadar keinginan Hizbut Tahrir atau Hj. Irene. Alhamdulillah, istilah khilafah yang lima tahun lalu di sini masih sering keliru dengan khilafiah kini sudah semakin populer. Namun, populernya istilah itu saja belum cukup. Kita perlu mempopulerkan Khilafah sebagai sistem yang wajib dan perlu ditegakkan oleh seluruh kaum Muslim. Inilah yang harus menjadi concern kita bersama.

Oleh karena itu, ketika saya mendapat balasan sms dari seorang reporter radio swasta dalam acara khusus news and talks saat Idul Adha 1425 kemarin, “Semoga perjuangan Anda dan kawan-kawan untuk menegakkan syariat Islam dan Khilafah segera terwujud,” saya teringat iklan oli yang sering ditayangkan di tv. Saya ingin mengatakan kepadanya, “Perjuangan Anda, menegakkan syariah dan Khilafah juga, kan?!” []

Oleh: KH. Muhammad Al-Khathath


[1] Ramai dalam istilah malaysia artinya: banyak

[2] ahli dalam istilah Malaysia artinya: anggota


Sumber: Al-Waie No. 55 (3/1/2005)

Prev: Jejak Syariah & Khilafah di Sumatera
Next: Al Aqsha, Palestina, dan Penegakan Khilafah

May 17, 2008

Memperkosa Setelah Membaca/Menonton Bacaan/Video Porno

31 Maret 2008

Memperkosa Setelah Membaca/Menonton Bacaan/Video Porno

memperkosa “setelah menonton” porno

Media Minangkabau-Ternyata banyak sekali kasus perkosaan yang terjadi setelah menonton video porno atau membaca buku porno. Korbannya ada Balita umur 4 tahun, bocah 6 tahun, hingga gadis cacat mental. Ada 9 halaman sudah yang saya copy paste. Sisanya masih banyak yang kalau saya ambil juga mungkin sebagian milis tidak mampu memuatnya karena kebesaran ukurannya.

Oleh sebab itu, saya mendukung pemberantasan pornografi karena pornografi meski sepintas “membela” perempuan, ternyata bukan hanya mengeksploitasi wanita, tapi juga merangsang birahi para pria yang membaca/menontonnya dan sebagian dari mereka akhirnya memperkosa wanita yang tidak berdosa. Termasuk Balita umur 4 tahun!

Oleh karena itu saya mendukung upaya pemerintah dan DPR untuk memberantas pornografi. Kalau mau telanjang atau beradegan ranjang, silahkan di rumah sendiri. Jangan mempertontonkan ke depan umum apalagi di depan anak kecil atau orang dewasa yang bisa memperkosa!

Kompas:
Seperti dilansir Bpost, diduga akibat terpengaruh tontonan VCD porno, Ed akhirnya memperkosa bocah anak tetangganya, sebut saja Melati (4), Selasa (26/2) lalu.

SCTV:
Liputan6.com, Pontianak: Seorang penghuni Panti Asuhan Pepabri, Kota Baru, Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (23/4) terpaksa berurusan dengan polisi. Dia diduga memperkosa tiga bocah perempuan penghuni panti lainnya. Mustohir–sebut saja demikian–tak tahan menahan nafsu lantaran keseringan membaca novel porno.

http://www.liputan6.com/view/0,76721,1,0,1139995932.html

Suara Merdeka:
Ketiganya dituduh telah memerkosa Bunga (nama samasaran, 12), pelajar SD kelas V. Pemerkosaan itu dilakukan bersama-sama pada awal November, dan sampai kasus tersebut terbongkar, sudah berlangsung empat kali. Miftaturahman mengaku melakukan perbuatan itu setelah menonton VCD porno.

Indosiar:
Aksi bejat Ris tersebut diakuinya telah dilakukan puluhan kali sejak tahun 2002. Ris mengaku dirinya tidak kuat menahan nafsunya setelah menonton film porno di rumah temannya.

Pikiran Rakyat:
Gara-gara terangsang menyaksikan blue film, seorang pedagang krupuk, Imr (20), warga Gang Rulita RT 1 RW 7 Kelurahan Harjasari Kec. Bogor Selatan Kota Bogor diduga mencabuli gadis kecil, NH (8), warga setempat, Kamis (20/2).

Bali Post:
Dari kasus-kasus yang terjadi, hampir seluruhnya bersumber pada rangsangan seksual akibat pelaku menonton tayangan porno. Ada anak yang mengaku hal itu dilakukan setelah menonton film India, ada juga karena nonton tayangan seperti goyang ngebor dan VCD porno yang beredar secara bebas.

TV7:
Memperkosa Karena VCD Porno

VCD porno kembali memakan korban, seorang remaja tanggung, Selasa kemarin tega mencabuli sepupunya sendiri, yang berusia 5 tahun. Tersangka mengaku terangsang melihat bocah yang masih belia tersebut setelah menonton VCD porno.

SCTV:
Tersangka akhirnya mengakui memperkosa remaja berusia 14 tahun itu lantaran tak kuasa menahan berahi setelah menonton film porno.

SCTV:
Tersangka Zaini menggauli paksa keponakannya lantaran tak kuasa menahan berahi setelah menonton film porno. Ilyas Efendi memperkosa gadis cacat mental setelah melihat pemain figuran di Film Warkop.

Siswa Pemerkosa Akan Diberhentikan
Banjarmasin, BPost

Oknum siswa SMK5, Ed (17), warga PM Noor, Jalan Tunas Baru RT80, Banjarmasin Barat yang diduga memperkosa balita anak tetangganya–sebut saja Melati (4) terancam akan diberhentikan.

Hal tersebut diungkapkan, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaaan SMK 5 Banjarmasin, Robin Hood, Senin (4/3). “Dengan adanya kasus ini Ed nantinya akan diberhentikan karena melanggar peraturan sekolah,” paparnya.

Diakui, Robin, selama ini Ed termasuk siswa yang tidak pernah bermasalah didalam artian tidak pernah berbuat macam-macam seperti membolos atau masalah lainnya.

Bahkan paparnya, di dalam administrasi Ed juga tidak pernah lalai seperti membayar SPP dan lainnya. Meski begitu pihak sekolah sangat menyangkan terjadinya kejadian pemerkosaan.

Meski diakuinya sebelum tertangkapnya Ed, siswa kelas I-I teknologi pengerjaan mesin ini, pihak aparat ada datang ke sekolah menanyakan keberadaan tersangka.

Tetapi karena Ed tidak masuk ke sekolah maka pihaknya tidak dapat menyerahkan Ed. “Kami cukup terkejut setelah membaca berita ternyata Ed terlihat kasus pemerkosaan,” ungkapnya.

Berita itu juga membuat pihak sekolah sangat menyanyangkan serta terpukul. Padahal pengawasan pihak sekolah sudah sangat ketat tapi ungkapnya entahlah di luar sekolah.

Terpisah, Humas SMKN 5 Banjarmasin H Haris Fadillah menyatakan ancaman diberhentikannya Ed dari bangku sekolah ini, tentu saja menunggu hasil penyidikan polisi dan vonis pengadilan.

“Kalau memang terbukti ia telah melakukan tindakan amoral seperti dilansir beberapa media di kota ini, kami dari pihak sekolah akan langsung memberhentikannya,” tuturnya.

Meski mengakui kalau anak didiknya telah dituduh melakukan tindakan itu, namun Haris berharap agar masyarakat tidak mencap hal tersebut akibat tidak becusnya pendidikan yang mereka lakukan.

Menurutnya, para pendidik di sekolah manapun tentu tidak menginginkan anak didiknya melakukan kesalahan, tapi hal tersebut tentu tidak bisa dihindari.

Sebagus-bagusnya sekolah melakukan pendidikan, pasti ada anak didikanya yang melakukan kesalahan,” terangnya sambil menambahkan pihaknya telah mendidik para siswanya dengan sebaik-baiknya.

Masih menurutnya, kepada para siswa SMKN 5 lainnya, telah pula diminta agar tidak melakukan tindakan yang bisa membuat malu nama sekolah.

Seperti dilansir Bpost, diduga akibat terpengaruh tontonan VCD porno, Ed akhirnya memperkosa bocah anak tetangganya, sebut saja Melati (4), Selasa (26/2) lalu.

Kelakuan bejat Ed, berstatus siswa SMK 5 Banjarmasin (dulu STM, Red) jurusan mesin itu, baru diketahui orangtua korban secara tak sengaja pada Kamis (28/2).dwi/may

http://www.kompas.com/business/news/0109/26/07.htm

Kamis, 01 Desember 2005 KEDU & DIY

Tiga Remaja Drop Out Memperkosa
MAGELANG – Tiga remaja drop out SMP, yaitu Miftaturahman (15), Atakri (14), dan Adri (14), semua warga Donomulyo, Secang, Kabupaten Magelang, harus meringkuk di tahanan Polsek Secang.

Ketiganya dituduh telah memerkosa Bunga (nama samasaran, 12), pelajar SD kelas V. Pemerkosaan itu dilakukan bersama-sama pada awal November, dan sampai kasus tersebut terbongkar, sudah berlangsung empat kali. Miftaturahman mengaku melakukan perbuatan itu setelah menonton VCD porno. Selain itu, dia dendam terhadap korban, karena sering diejek mukanya kaya monyet. Setelah nonton film biru, dia mengajak kedua temannya -Atakri dan Adri- untuk ‘’mengerjai’’ Bunga. Caranya, memaksa korban disertai ancaman, kemudian dibawa ke kebun kosong.

Karena ancaman tiga tersangka itulah, korban takut melapor kepada orang tuanya. Terbongkarnya kasus itu, setelah korban menceritakan peristiwa yang dialaminya kepada bibinya, yang kemudian diteruskan ke orang tuanya. Kapolsek Secang, AKP Totok Sugito, menjelaskan, tiga tersangka itu dikenai pasal berlapis. Yakni Pasal 81 Ayat 1 Undang-Undang (UU) Perlindungan Anak, serta Pasal 287, 289, dan 290 KUHP dengan ancaman hukuman 15 tahun.(P.60-55a)

http://www.suaramerdeka.com/harian/0512/01/ked09.htm

Paman Cabuli Keponakan
14 Oktober 2004 13:59:05

Gara-gara pengaruh film porno seorang paman tega memperkosa keponakannya sendiri yang masih berusia 6 tahun. Aksi pemuda warga Wanaherang, Bogor, Jawa Barat ini terungkap setelah korban menceritakan kepada kakek dan neneknya.

Ris, pemuda berusia 20 tahun warga Kampung Jangkang, Desa Wanaherang, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat, kini terpaksa berurusan dengan petugas Polsek Gunung Putri. Ris ditangkap petugas karena dituduh melakukan pemeroksaan terhadap BP (6) yang tidak lain adalah keponakannya sendiri.

Aksi bejat Ris tersebut diakuinya telah dilakukan puluhan kali sejak tahun 2002. Ris mengaku dirinya tidak kuat menahan nafsunya setelah menonton film porno di rumah temannya.

Hasratnya tersebut akhirnya disalurkan kepada BP keponakannya sendiri yang dilakukannya di rumah tersangka. Menurut Ris tidak sulit mengajak BP ke rumahnya kerena sebelumnya diiming-imingi uang dan makanan.

Perbuatan Ris terbongkar setelah korban akhirnya berani melaporkan perbuatan bejat pamannya kepada nenek dan kakeknya yang lalu melaporkan kepetugas Polsek Gunung Putri. Ris akan dikenai pasal pencabulan dan diancam hukuman 9 tahun penjara.

Sumber : Indosiar

http://www.multibusindo.com/kriminal/infokriminal/detail.php?id=4102

JABAR & BANTEN
Jumat, 21 Februari 2003

Imr Iming-iming Korban Rp 1.000,00
Dikeroyok Massa, Pedagang Kerupuk Cabuli Gadis Kecil
BOGOR, (PR).-
Gara-gara terangsang menyaksikan blue film, seorang pedagang krupuk, Imr (20), warga Gang Rulita RT 1 RW 7 Kelurahan Harjasari Kec. Bogor Selatan Kota Bogor diduga mencabuli gadis kecil, NH (8), warga setempat, Kamis (20/2). Akibatnya, ia babak belur dihajar massa. Kini, pedagang kerupuk itu meringkuk di sel tahanan Mapolsekta Bogor Selatan.

Kapolsekta Bogor Selatan AKP Arli Jembar menyebutkan bahwa peristiwa pencabulan itu telah berulang terjadi terhadap korban. Namun, baru terungkap setelah korban menyaksikan salah satu program berita kriminal di salah satu stasiun televisi swasta, saat di rumah tetangganya.

”Jadi, setelah menonton Buser, yang menayangkan kasus seorang kakek memperkosa anak di bawah umur, korban menceritakan bahwa tukang krupuk yang juga tetangganya itu sering berbuat hal yang sama terhadap dirinya,” jelasnya.

Lalu, pengakuan yang lugu dari korban itu segera dilaporkan tetangga korban kepada orang tuanya. Kemudian orang tuanya kembali menanyakan pengakuan itu langsung kepada korban. Setelah jelas, orang tua korban melaporkan kepada Ketua RT. ”Ketua RT bersama sejumlah warga kemudian mengamankan tersangka dan menginterogasinya. Ketika itu, tersangka mengakui perbuatannya. Itu sebabnya, warga menghajarnya, tetapi ketua RT segera menyelamatkannya dan melaporkan kepada kami,” kata kapolsekta.

Setelah mendapat laporan itu, beberapa polisi mendatangi lokasi kejadian perkara (TKP), mengamankan, dan membawa tersangka ke mapolsekta. Ketika diperiksa polisi, tersangka mengaku mencabuli korban karena terangsang setelah menonton film porno.

”Dari pengakuannya, sejak pekan lalu perbuatan itu dilakukan Imr terhadap korban. Namun, tersangka hanya menggesek-gesekkan kemaluan ke alat vital korban sampai orgasme. Sebelum melakukan pencabulan itu, tersangka mengiming-iming korban dengan krupuk atau uang Rp 1.000,00,” sebut Arli Jembar.

Kendati tersangka mengaku tidak melakukan pemerkosaan terhadap korban, namun kapolsekta menegaskan bahwa tersangka akan dijerat dengan Pasal 290 KUHP karena telah mencabuli anak di bawah umur. (A-128/D-10)***

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0203/21/0405.htm

Kontrol Masyarakat Kurang, Pemerkosaan sudah Melibatkan Anak
Mataram (Bali Post) -
Orangtua sudah harus mawas terhadap perilaku anaknya. Pasalnya, kasus pemerkosaan terhadap anak tahun 2003 makin melonjak dan kini tidak lagi dilakukan oleh orang lain, melainkan oleh kerabatnya sendiri. Yang lebih memprihatinkan, pelaku pemerkosaan tidak saja orangtua, bahkan pelajar SD.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB, Hj. Kerniasih Mudjitahid dan Koordinator Jaringan dan Perlindungan Anak, Azhar Zaini, S.E., Senin (19/1) kemarin, menyebutkan 44 kasus pemerkosaan yang diketahui pada tahun 2003. Sekitar 80 persen dari kasus itu dilakukan keluarga sendiri.

Anak-anak yang diperkosa keluarganya sendiri itu berusia bervariasi. Bahkan ada anak berusia 1 tahun yang mengalami tindakan keji itu. Kasus perkosaan yang dilakukan ayah kandung, ayah tiri, paman, kakak, dan lain-lain, itu semakin menjadi fenomena yang mengkhawatirkan. Di Lombok Tengah misalnya, terjadi kasus pemerkosaan yang dilakukan seorang paman. Korban kemudian dibunuh dan ditemukan mayatnya berada di dalam karung 16 hari kemudian.

Menurut Azhar Zaini, mengemukanya berbagai kasus pemerkosaan anak itu tidak lepas dari makin melemahnya kontrol masyarakat. Di sisi lain, persoalan yang melibatkan keluarga misalnya, dianggap masalah domestik. Sering kali kasus-kasus pemerkosaan akhirnya dibiarkan begitu saja. “Kemungkinan besar juga karena masyarakat sedang sibuk untuk mengurus dirinya sendiri dari segi ekonomi,” ujar Azhar.

Di samping itu, mengemuka pula kasus pemerkosaan yang melibatkan siswa SD, baik kelas IV maupun kelas enam. Di sebuah SD di Lombok Barat misalnya, seorang anak kelas dua SD mencoba diperkosa empat kawannya yang duduk di kelas empat. Di kabupaten lain pun terdapat kasus anak kelas enam mau memperkosa siswa kelas empat. “Kasus pemerkosaan yang melibatkan pelajar ini sudah sangat memprihatinkan,” kata Kerniasih.

Dampak Tayangan Porno

Dari kasus-kasus yang terjadi, hampir seluruhnya bersumber pada rangsangan seksual akibat pelaku menonton tayangan porno. Ada anak yang mengaku hal itu dilakukan setelah menonton film India, ada juga karena nonton tayangan seperti goyang ngebor dan VCD porno yang beredar secara bebas.

Menurut Azhar Zaini, muncul pula kasus pembuangan orok hampir di seluruh NTB dengan tidak adanya penyelesaian terhadap pelakunya. Bisa jadi, kata dia, antara kasus pemerkosaan dan pembuangan orok, memiliki korelasi ibarat fenomena gunung es. “Kasus-kasus yang tercatat itu pun adalah kasus yang sudah dilaporkan,” ujarnya.

Bagaimana dengan yang tidak dilaporkan? Kerniasih Mudjitahid mengatakan, kemungkinan sangat banyak. Ia mengemukakan, para orangtua memiliki tugas yang sangat berat untuk mengawasi anak-anaknya. Pasalnya, mereka saat ini semakin bebas menonton tayangan porno. Jika tidak diketahui orangtuanya, mereka menjadi sasaran empuk informasi yang salah tentang tayangan itu. “Di sinilah diperlukan penguatan keluarga agar mengawasi secara terus-menerus anak-anaknya, di samping senantiasa melakukan kontak komunikasi antara orangtua dan anak,” papar Kerniasih.

Hal yang mengherankan, lanjut Azhar, tidak adanya hukuman yang setimpal bagi pelaku tindak pemerkosaan. Sebagian besar pelaku menerima hukuman 1-2 tahun. Di sisi lain, karena pandangan masyarakat yang menganggap bahwa persoalan pemerkosaan yang melibatkan anak bisa membuka aib keluarga, jarang ada tindak lanjut secara hukum dan pelakunya bebas begitu saja. Padahal, korban mengalami trauma yang sangat berat akibat tindak pemerkosaan. Ia mengatakan, diperlukan kebersamaan dalam menghadapi masalah yang semakin krusial ini. Sebagai contoh untuk tingkat legislatif dilakukan upaya signifikan dalam membuat Perda yang bisa memberantas VCD porno. Sebab, korban tayangan porno ini lebih banyak anak-anak. Selain itu, pengawasan masyarakat harus diperketat. (045)

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2004/1/20/nt2.htm

Rabu 30 April 2003
Memperkosa Karena VCD Porno

VCD porno kembali memakan korban, seorang remaja tanggung, Selasa kemarin tega mencabuli sepupunya sendiri, yang berusia 5 tahun. Tersangka mengaku terangsang melihat bocah yang masih belia tersebut setelah menonton VCD porno.

Tersangka Mohamad Abdurrohim, ditangkap aparat Polsek Kalideres, dini hari tadi, di daerah Kota, akibat mencabuli sepupunya sendiri, ND yang berusia 5 tahun, satu hari sebelumnya. Perbuatan itu dilakukan di ruang tamu, saat Ibu korban tengah memasak di dapur.

Menurut pengakuan tersangka ia tak sampai memperkosa korban, ia juga mengaku berani melakukan hal itu karena korban tidak menangis setelah diming-imingi permen.

Menurut hasil visum dari RSCM, ND mengalami luka lecet di sekitar selaput daranya, Rohim yang baru berusia 19 tahun ini mengaku khilaf dan terancam pasal 290 tentang pencabulan dengan hukuman di atas 7 tahun. (Dini Savitri/Abdul Jawad)

http://202.145.0.146/news/news_view.asp?y=395

Kasus Pemerkosaan
Pisah Ranjang dengan Istri, Kakek Menggarap Cucu
Abdurrahman bin Amborape di Polres Cirebon.

04/03/2004 13:23
Abdurrahman tega memperkosa Bunga, cucunya yang baru berusia 10 tahun di perkebunan tebu di Cirebon, Jabar. Seorang duda yang kesepian dituding menyodomi keponakannya. Ia dibekuk setelah ayah korban melapor.

Liputan6.com, Cirebon: Tim Reserse Kriminal Kepolisian Resor Cirebon menangkap Abdurrahman bin Amborape, seorang kakek yang tega memperkosa cucunya yang masih berusia 10 tahun. Lelaki berusia kepala tujuh yang sempat buron selama delapan bulan ini dibekuk di kawasan Stasiun Parujakan, Cirebon, Jawa Barat, baru-baru ini. Kakek nakal ini tak tahan menahan hawa nafsu setelah setahun pisah ranjang dengan istrinya.

Peristiwa itu terjadi Juni tahun lalu. Karena tak tahan pisah ranjang dengan istri tercinta selama setahun ini, naluri seks tersangka pun makin liar. Lelaki yang rambutnya sudah putih semua itu kemudian mengajak cucunya–sebut saja Bunga. Dengan dalih ingin mengajak jalan-jalan sang cucu, sang kakek pun membawa Bunga ke areal perkebunan tebu. Di tempat itulah, Abdurrahman merenggut keperawanan cucu tercinta. Namun kini sebaliknya. Kakek nakal ini bersiap-siap menghabiskan pahit hidupnya di dalam penjara.

Pemerkosaan yang dilakukan seorang kakek bukan kasus baru. Di Lampung Utara, seorang kakek ditangkap Tim Buru Sergap Kepolisian Resor Lampung Utara karena disangka memperkosa keponakannya. Tersangka Zaini diringkus di rumah anaknya di kawasan Kedaton, Bandar Lampun, belum lama berselang [baca: Kakek Pemerkosa Dibekuk di Lampung dan Jambi]. Awalnya, pria berusia 60 tahun ini pura-pura lupa mengingat peristiwa setahun lalu. Tersangka akhirnya mengakui memperkosa remaja berusia 14 tahun itu lantaran tak kuasa menahan berahi setelah menonton film porno.

Ulah Abdurrahman setali tiga uang dengan tindakan tak senonoh Satori, seorang duda yang tinggal di kawasan Astanajapura, Cirebon. Memang Satori tak mencabuli cucu seperti sang kakek. Lelaki ini menyodomi kemenakannya yang baru berusia sembilan tahun. Bapak dua anak ini mengaku terpaksa berbuat tak senonoh karena kesepian setelah ditinggal mati istrinya.

Setelah lama menduda tentu nafsu berahi Satori yang meledak-ledak tak mendapatkan sasaran penyaluran. Rupanya ia tak kehabisan akal. Meski ikhlas disebut edan, Satori pun menggarap kemanakannya, bocah lelaki yang masih ingusan. Dengan iming-iming uang seribu rupiah, Satori sukses melampiaskan nafsu bejatnya itu hingga dua kali.

Perbuatan bejat Satori terungkap setelah ayah korban melihat kejanggalan dalam diri anaknya. Ia pun menanyai korban. Sang bocah pun menjelaskan duduk persoalan sebenarnya. Kontan cerita itu membuat marah sang ayah. Tak menunggu waktu lagi, ayah korban melaporkan perbuatan amoral Satori ke polisi. Dan kini, Satori pun bersiap-siap diganjar hukuman lima tahun penjara.(DEN/Ridwan Pamungkas)

http://www.liputan6.com/view/0,73488,1,0,1139996412.html

Kakek Pemerkosa Dibekuk di Lampung dan Jambi
Zaini
11/02/2004 14:21
Tersangka Zaini menggauli paksa keponakannya lantaran tak kuasa menahan berahi setelah menonton film porno. Ilyas Efendi memperkosa gadis cacat mental setelah melihat pemain figuran di Film Warkop.

Liputan6.com, Bandar Lampung: Seorang kakek ditangkap Tim Buru Sergap Kepolisian Resor Lampung Utara, baru-baru ini, karena disangka memperkosa keponakannya. Tersangka Zaini diringkus di rumah anaknya di kawasan Kedaton, Bandar Lampung. Penangkapan Zaini mengagetkan istri dan dua anaknya. Tapi cepat lelaki tua itu berucap, polisi salah tangkap.

Saat ditanya, pria berusia 60 tahun ini kesulitan mengingat peristiwa yang terjadi setahun lalu. Kepala Reserse Polres Lampung Utara Inspektur Polisi Satu Asep Kartiawan lantas menunjukkan hasil visum korban. Tersangka makin tak berkutik ketika dicek silang dengan keterangan kemenakannya, Melati–sebut saja begitu–yang menyebutkan Zaini memperkosa di rumahnya di daerah Sri Basuki, Kota Bumi. Setelah itu, Zaini kabur ke rumah anaknya. Selama perjalanan ke kantor polisi, tersangka mengakui memperkosa remaja berusia 14 tahun itu lantaran tak kuasa menahan berahi setelah menonton film porno.

Di Jambi, seorang kakek dibekuk polisi karena memperkosa gadis cacat mental. Ilyas Efendi menutupi wajahnya saat digelandang polisi. Lelaki berumur 58 tahun ini rupanya malu dengan tetangganya di Desa Olak, Kecamatan Jambi Luar, Kota Muaro Jambi. Korban mengaku kepada keluarganya telah diperkosa Ilyas saat menonton Film Warkop di rumah tersangka. Ilyas mendadak memeluk korban karena tak kuasa menahan nafsu setelah melihat pemain figuran yang berpakaian minim. Pelaku membantah memperkosa, tapi hanya menindih tubuh korban. Sedangkan hasil visum menyatakan, kemaluan gadis itu jelas robek.

Sehari sebelumnya, kasus sejenis pun terjadi. Seorang kepala sekolah dasar di Medan, Sumatra Utara, dibekuk polisi setelah dilaporkan warga mencabuli muridnya [baca: Kepala Sekolah di Medan Mencabuli Murid]. Ganti Purba mengaku selalu terangsang melihat siswi, sebut saja Cinta, yang sering diajak menginap di rumah keluarganya.(COK/Tim Buser SCTV)

http://www.liputan6.com/view/0,71996,1,0,1139996401.html

Sumber: http://www.media-islam.or.id/content/view/27/1/

sumber : http://media-minangkabau.blogspot.com/2008/03/memperkosa-setelah-membacamenonton.html

Fenomena Sarjana dan Dunia Kerja

Fenomena Sarjana dan Dunia Kerja Apr 23, ’08 7:12 AM
for everyone
Jutaan sarjana lahir setiap tahun

Pendidikan saat ini sudah menjadi sebuah kebutuhan yang harus bagi setiap orang, bagi para orang tua akan berusaha mempersiapkan pendidikan yang lebih baik untuk anak-anaknya bahkan sampai ke jenjang perguruan tinggi, banyak hal yang menjadi alasan akan pentingnya pendidikan saat ini, mulai dari menjadikan pendidikan sarana untuk menimba ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian berkembang, sebagai alat untuk pemenuhan kebutuhan, sebagai peningkatan strata sosial, bahkan tidak sedikit yang melanjutkan pendidikan hanya untuk sekedar gengsi, dan bagi sebagian orang tidak lagi mementingkan berapapun ongkos yang akan dikeluarkan yang penting bisa tetap melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang yang lebih tinggi, intinya saat ini pendidikan itu penting.

Perguruan tinggi, yang akan melahirkan para sarjana pun saat ini tidak kalah tumbuh pesat, tercatat ratusan perguruan tinggi ada di Indonesia yang menawarkan beragam program study dan fasilitas yang menjanjikan, tidak hanya itu, lembaga-lembaga kursus yang setara dengan perguruan tinggi pun tumbuh bak jamur dimusim hujan sebagai imbas akan kebutuhan pendidikan tinggi.

Dari sekian perguruan tinggi yang ada, setiap tahunnya akan meluluskan ribuan bahkan jutaan sarjana, yang siap atau tidak siap akan terjun kedunia nyata mengaplikasikan apa yang telah didapatkan dari pendidikannya selama ini, mereka akan berlomba-lomba untuk mengisi segala posisi yang ada ditengah-tengah masyarakat untuk meneruskan estafet bansa dimasa yang akan datang.

Sempitnya lapangan pekerjaan

Indonesia sebagai salah satu negara berkembang saat ini terus berupaya memacu pertumbuhan ekonominya pasca diguncang krisis hebat pada tahun 1997 lalu akibat dari kenaikan suku bunga oleh Fed Reserve Amerika Serikat yang berinisiatif mengantisipasi kemungkinan inflasi di AS, kemudian mengakibatkan jatuhnya harga-harga saham di bursa, disamping melemahnya nilai tukar Euro. Namun, yang paling banyak diributkan adalah penyebab yang merupakan unsur-unsur di dalam negeri yaitu kerawanan antar elite politik, keraguan terhadap integritas kebijakan pemerintahan, sampai kepada Bank Indonesia yang seharusnya paling bertanggung jawab atas kestabilan rupiah masih jauh dari pembenahan yang diharapkan. Untuk itu berbagai uapaya dilakukan pemerintah untuk meningkatkan satabilitas keamanan dan stabilitas ekonomi. Menurunya stabilitas keamanan negara ini, berimbas pada menurunya stabilitas ekonomi, pertumbuhan ekonomi melambat mengakibatkan banyak pelaku usaha yang tidak tiap dengan perubahan iklim ekonomi yang begitu drastis terpaksa menurunkan laju produksi bahkan ada yang terpaksa menghentikan usaha tersebut, banyak para investor yang selama ini menanamkan modalnya untuk berbagai sektor di Indonesia, menarik investasinya keluar dan mengalihkannya ke negara lain. Hal itu berimbas pada semakin kecilnya lapangan pekerjaan, dan membuat ketidak seimbangan antara para pencari kerja dan dunia kerja.


Sarjana Vs Dunia Kerja

Dari gambaran diatas jelas bahwa lapangan kerja yang ada saat ini tidak lagi cukup untuk untuk menampung jutaan sarjana yang lulus setiap tahunnya, akibatnya persaingan untuk memperebutkan lapangan pekerjaan akan semakin keras, den menuntut setiap orang untuk benar-benar mengoptimalkan kemampuan diri agar sesuai dengan verifikasi yang dibutuhkan dunia kerja itu sendiri. Dan ironinya segala upayapun akan dilakukan dengan alasan kebutuhan untuk melanjutkan hidup.alhasil bagi yang tidak mampu bersaing akan tersingkir, disanalah menjamurnya para pengangguran dari kalangan sarjana, dan tidak mengeharankan berkembang anekdot dalam masyarakat bahwa ”sarjana hanya akan menganggur”.

Hal tersebut pada dasarnya bukanlah salah perguruan tinggi, yang menjadi sebab adalah minimnya kesadaran untuk mengembangkan kemampuan diri serta kurangnya kreatifitas individu itu sendiri, bahkan sugesti yang ada selama ini bahwa ”kuliah untuk mencari kerja” mendorong setiap lulusan perguruan tinggi untuk berbondong-bondong mencari pekerjaan, bukan menciptakan lapangan pekerjaan.

Kita kembalikan ke topik awal, segalanya tergantung pada alasan apa yang mendorong seseorang untuk melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi, apakah benar-benar untuk menimba ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai bekal terjun ”kedunia nyata”, atau hanya sekedar gengsi agar status sosial dalam masyarakat meningkat.


Pendidikan Tinggi Bukan Untuk Mencari Kerja

Ada hal yang harus menjadi sebuah renungan dari tujuan pendidikan. Pendidikan bertujuan untuk mencedaskan kehidupan bangsa, artinya setiap warga negara harus mampu menjawab setiap tantangan yang dihadapi bangsa, untuk itu, setiap generasi sudah harus mempersiapkan segala hal untuk terjun dalam masyarakat, tidak lagi hanya menunggu tapi sudah mampu membuka setiap peluang. Sehingga tidak akan ada lagi istilah ”pengangguran”.

Prev: Perekonomian Menuntut Penerapan Teknologi

SUMBER : http://ivanmancini.multiply.com/journal/item/22/Fenomena_Sarjana_dan_Dunia_Kerja

Hukum Lemah, Korupsi Merajalela

Filed under: Hukum Lemah,Korupsi Merajalela — indonesia234 @ 8:42 am
Tags: ,

Hukum Lemah, Korupsi Merajalela

Meski berfungsi sebagai pengawas keuangan negara, Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan ternyata tidak selalu efektif untuk mengatasi kebocoran uang negara, yang menurut Prof. Soemitro Djojohadikusumo bisa mencapai 30 persen dari APBN.

Pada salah satu seminar, mantan Kepala Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan Drs. Gandhi menuturkan bahwa berdasar pengalamannya ternyata sulit mengajukan koruptor ke pengadilan melalui Kejaksaan Agung. Suatu kasus yang menurut ahli hukum BPKP sudah dapat diajukan ke pengadilan, setelah lama menunggu cukup lama, dapat saja tiba-tiba ditutup dengan dikeluarkannya Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) dari kejaksaan.

Selain itu, kerap kali pemeriksaan BPKP mengungkapkan adanya penyimpangan-penyimpangan yang masih bersifat administratif, akan tetapi mengandung potensi untuk menjadi korupsi, jika tidak segera diatasi. Namun, ternyata penyimpangan itu tidak ditindaklanjuti oleh pejabat yang bertanggung jawab, bahkan dalam tahun berikutnya penyimpangan itu berulang kembali.

Pelanggaran oleh Negara

Dalam suasana seperti ini, tidak heran jika korupsi masih terus merajalela meski Indonesia memiliki Undang-undang Anti Korupsi no. 3 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sejak tahun 1971. Bahkan kerap kali sumber penyimpangan ini justru berasal dari pemerintah.

Pada bulan November 1998, Masyarakat Transparansi Indonesia mengumumkan temuannya tentang 79 Keputusan Presiden yang mengandung indikasi korupsi, kolusi dan nepotisme. Bahkan pada akhir Desember lalu, Fraksi Karya Pembangunan DPR RI meminta pemerintah mencabut 177 Keputusan Presiden yang dianggap bermasalah.

Bagi ahli hukum Baharuddin Lopa, salah satu yang mendorong terjadinya pelanggaran hukum oleh pejabat negara ini adalah tabiat mereka yang serakah. “Mungkin juga sikap itu dilandasi rasa takut bercampur malu yang pada oknum pejabat tinggi dan pengusaha kuat yang berkolusi sudah jarang ditemukan. Rasa berkuasa itulah yang sering membuat seseorang memandang remeh orang lain dan berani bertindak apa saja,” tulis Lopa dalam harian Bisnis Indonesia edisi 21 November 1998. Dalam artikel yang sama, Lopa menegaskan keserakahan ini tumbuh subur karena lemahnya penegakan hukum, serta manajemen yang tidak rapi, sehingga kebocoran tidak bisa segera diketahui dan dikendalikan.

Kecenderungan penguasa, terutama di negara-negara berkembang, untuk melanggar hukum yang dibuatnya sendiri dapat dilacak pada sejarah pembentukan negara-negara tersebut. Berbeda dengan negara-negara industri yang berkesempatan menumbuhkan birokrasi yang berbasis pada prestasi (merit system), kelembagaan politik yang kompetitif, proses pemerintahan yang mapan dan transparan, serta masyarakat sipil yang berpengetahuan cukup (well informed) dan didukung oleh perkembangan media massa, negara-negara sedang berkembang tidak memiliki pengalaman yang sama.

Akibat warisan penjajahan, lembaga-lembaga pemerintah di negara sedang berkembang cenderung lebih lemah, masyarakat sipilnya kurang berperan serta dalam pengambilan keputusan publik, dan proses-proses birokrasi serta politik berlangsung kurang terbuka dan kurang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam kondisi demikian, aparat negara yang efektif, serta kemampuan menegakkan hukum nyaris tidak ada.

Dalam World Development Report 1997, Bank Dunia memperingatkan bahwa pemerintahan negara yang efektif merupakan hal yang penting bagi penyediaan barang dan jasa —serta peraturan dan kelembagaan— yang memungkinkan pasar untuk berkembang dan membuat hidup masyarakat lebih sehat serta sejahtera. “Salah satu faktor penting yang menghasilkan dan menjadi hasil dari pemerintahan yang lemah adalah korupsi, yaitu penyalahgunaan lembaga pemerintahan bagi keuntungan pribadi,” demikian Bank Dunia dalam Corruption and Good Governance, 1997 Annual Meetings World Bank Group Issue Brief.

Tidak Transparan

Transparency of Asia’s

Business Environment

Country

Grade

1997 1998
UK 4.00 1.81
Australia 3.00 2.12
USA 3.80 2.26
HongKong 5.00 2.82
Singapore 4.40 3.61
Taiwan 6.10 3.94
Japan 5.85 5.78
Philippines 6.70 6.14
Malaysia 6.30 6.46
SouthKorea 7.00 6.58
China 8.20 6.94
Thailand 6.50 7.20
Indonesia 7.40 8.41
Vietnam 9.50 8.50

Kecenderungan negara-negara sedang berkembang untuk menutupi informasi-informasi yang berkaitan dengan keuangan negara, menambah subur peluang untuk melakukan korupsi karena tidak ada sorotan publik dan tidak ada pengawasan dari pers yang bebas.

Berkaitan dengan soal transparansi informasi, lembaga penelitian Politic and Economic Risk Consultancy, Ltd yang berbasis di Hongkong meminta pendapat 834 responden dari kalangan pengusaha serta pejabat pemerintahan di sejumlah negara Asia dan Eropa tentang hal ini.

Hasilnya cukup menggembirakan, karena sebagian besar negara yang disurvei menunjukkan kemajuan besar dalam transparansi informasi. Khusus bagi negara-negara Asia, peningkatan kualitas transparansi ini didorong oleh hadirnya sejumlah lembaga keuangan internasional yang menekankan pada transparansi informasi dan pengambilan keputusan sebagai prasyarat bantuan mengatasi krisis ekonomi.

Sayangnya, Indonesia termasuk negara yang dianggap tingkat transparansinya memburuk, tercermin pada indeks yang menurun dari 7,40 pada tahun 1997 menjadi 8,41 pada tahun 1998.

Bersama dengan Vietnam, “situasi di kedua negara ini begitu buruk, sehingga perusahaan-perusahaan menghadapi situasi yang nyaris gelap, ” tulis PERC dalam Transparency Problems In Asia, Excerpted from Asian Intelligence Issue #523, terbitan 25 November, 1998.

Menangkap Kakap

Meski mengakui bahwa celah-celah hukum merupakan salah satu faktor berkembangnya korupsi, Transparency International memperingatkan bahwa pemantauan terhadap korupsi tidak dapat diserahkan semata-mata pada aparat penegak hukum.

Langkah penindakan juga tidak hanya bergantung pada penyidikan dan penuntutan pidana, namun harus mencakup kombinasi dari berbagai pengaturan yang saling berkait satu sama lain. “Meski tidak pernah dapat dipantau sepenuhnya, korupsi dapat dikendalikan melalui kombinasi kode etik, tuntutan hukum yang tegas terhadap pelanggar, perubahan organisasi, serta reformasi kelembagaan,” demikian tertulis dalam Chapter 3: Reinventing Government? Removing Corrupt Incentives, Part A: Analytical Framework, The TI Source Book.

Karena kuatnya kebutuhan terhadap langkah bersama yang terkoordinasi, Ketua Masyarakat Transparansi Indonesia Mar’ie Muhammad menyarankan agar pemerintah membentuk komisi independen untuk memberantas korupsi. Dengan beranggotakan orang-orang yang punya track record bersih serta dukungan dunia internasional, Mar’ie yakin komisi ini dapat bekerja efektif memberantas penyakit korupsi ini. Di depan peserta Indonesia Forum (20 Nov. 1998), mantan menteri keuangan ini menandaskan, “tanpa membentuk badan yang independen, pemberantasan korupsi sulit menyentuh koruptor kelas kakap (big fish) yang hidup dari hubungan politik dan bisnis yang tidak sehat.”
[MTI] [Media Transparansi Edisi 4/Jan 1999] [Media Transparansi Online]


© Copyright 1999 Masyarakat Transparansi Indonesia
Gedung Graha Niaga Lt. 3, Jl. Jend. Sudirman Kav. 58
Jakarta 12190 Telp:(62-21) 252-6719, 252-6720 Fax (62-21) 252-6725

KEMISKINAN DAN BELITAN UTANG LUAR NEGERI

Kemiskinan dan Belitan Utang Luar Negeri

Oleh
Ubaidillah Sadewa

Krisis ekonomi yang menimpa Indonesia dari tahun 1997 sampai saat ini belum menampakkan tanda-tanda perbaikan. Mulai dari awal krisis sampai kini Indonesia selalu menyandarkan nasibnya kepada “sang penolong”, IMF, Bank Dunia, ADB dan lain sebagainya. Tampaknya, resep yang diberikan oleh “sang penolong” tersebut tidak menumbuhkan hasil.
Utang luar negeri Indonesia saat ini sudah di luar batas kewajaran. Pada tahun 2004 saja utang kita mencapai US$ 136.679 miliar (bila 1 $ = Rp. 9.000,- utang Indonesia sudah mencapai kisaran = Rp. 1.230 triliun). Utang tersebut terdiri dari US$ 78,6 miliar utang pemerintah dan US$ 52 miliar utang swasta (KAU, 2004).
Dari jumlah tersebut belum termasuk utang dalam negeri yang jumlahnya mencapai Rp. 650 triliun. Dengan demikian, beban utang per kapita penduduk Indonesia sudah mencapai hampir US$ 1.000 (Rp. 10 juta per orang). Beban itulah yang sekarang dipikul oleh 40 juta orang kelompok masyarakat miskin termasuk para bayi Indonesia yang baru lahir.
Kebijakan utang Indonesia tidak selalu berpihak kepada rakyat kecil. Para pengambil keputusan dan birokrasi yang mulai kecanduan utang mengajukan permintaan acak terhadap proyek-proyek pembangunan ekonomi yang tidak strategis dalam jangka panjang, tidak sesuai dengan kebutuhan rakyat Indonesia, dan semakin menimbulkan kesenjangan sosial. Telah lama diketahui rakyat bahwa sebagian dari utang tersebut mengendap dalam rekening dan proyek-proyek yang berbau korupsi.
Sebesar 30% utang luar negeri Indonesia doperkirakan dikorupsi oleh pejabat Orde Baru, dengan sepengetahuan lembaga internasional pemberi utang. Yang lebih buruk lagi, rakyat Indonesia harus menanggung utang-utang swasta, milik konglomerat, yang dialihkan ke dalam utang pemerintah Indonesia melalui program penyehatan perbankan.
Sebelum krisis berlangsung, ketika pertumbuhan ekonomi masih sekitar 7%, angka pengangguran terbuka total telah mencapai angka 7% sedang angka pengangguran terbuka tenaga terdidik di perkotaan sudah mencapai angka 18,6%. (Manning, 1997).
Angka pengangguran terbuka semakin meningkat tajam dan melanda hampir seluruh lapisan masyarakat ketika gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi sebagai akibat perusahaan mengurangi produksi atau gulung tikar karena krisis moneter.
Juga ada kebijakan melikuidasi bank bermasalah. Saat ini pengangguran terbuka total diperkirakan mencapai angka 17,1% atau sekitar 15.4 juta (Johnson : 1997:39).
Meskipun sebagian pekerja terkena PHK terpaksa kembali ke daerah asal (pedesaan), tetapi barangkali sebagian besar pengangguran terbuka bertahan di pusat-pusat industri (seperti Jabotabek) atau dengan segala daya untuk tetap mengadu nasib di perkotaan.
Pekerja yang terpaksa kembali ke desa tidak mustahil menambah angka setengah pengangguran karena kemungkinan mendapatkan pekerja penuh (full time) cukup sulit di perdesaan. Angka setengah pengangguran sebelum krisis sekitar 35% dan proporsi terbesar berada di perdesaan (Johnson: 1997:35). Setelah krisis ekonomi angka setengah pengangguran diperkirakan mencapai 40–50 juta atau sekitar 50%. Masalah ketenagakerjaan ini semakin runyam karena selama krisis ribuan pekerja migran yang selama ini bekerja di Malaysia dan Singapura dipulangkan ke daerah asal.
Selama krisis, jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan meningkat dari sekitar 12 juta di awal tahun 1997 menjadi sekitar 80 juta di pertengahan 1998. Angka kemiskinan di perdesaan saat ini telah mencapai 53% dan di perkotaan sekitar 39% (ILO, 1998: 99). ILO bahkan memperkirakan 2 dari 3 penduduk Indonesia tergolong miskin. Angka kemiskinan itu masih bisa diperdebatkan karena masing-masing formula akan menghasilkan angka yang berbeda.
Tanpa menggunakan formula, secara realitas kita dapat menyaksikan bahwa kemiskinan belakangan meningkat tajam karena bencana alam, kerusuhan dan konflik sosial yang terjadi di beberapa tempat tidak hanya memaksa penduduk harus mengungsi dan tinggal di tenda-tenda atau tempat pengungsian tetapi jutaan penduduk kehilangan tempat tinggal dan harta benda.
Artinya, selama krisis ekonomi berlangsung yang kemudian diikuti berbagai bencana alam dan kerusuhan sosial menyebabkan penduduk yang hidup dalam kemiskinan meningkat tajam. Upaya penanggulangan kemiskinan yang selama ini diterapkan nampaknya tidak memberikan arti terhadap penurunan kemiskinan.
***
Awal tahun ini, pemerintah telah memutuskan untuk menambah utang baru triliunan rupiah melalui forum sidang CGI (Consultative Group on Indonesia) ke-14 yang akan berlangsung 19-21 Januari 2005 di Jakarta. CGI merupakan konsorsium negara-negara dan lembaga-lembaga kreditor dan donor untuk Indonesia yang dibentuk pada tahun 1992 sebagai pengganti konsorsium yang sama, yaitu IGGI (Inter-Governmental Group on Indonesia).
CGI terdiri dari sekitar 30 kreditor bilateral dan multilateral diantaranya World Bank, ADB, IMF, dan pemerintahan-negara industri seperti Jepang, Amerika Serikat, Inggris, dan lain-lain. Perlu dicatat bahwa CGI adalah penyumbang bagian terbesar utang luar negeri pemerintah Indonesia dengan dalih membantu mengatasi krisis ekonomi dan ”menambal” defisit APBN 2005. dengan demikian bisa dikatakan ketergantungan pemerintah terhadap CGI merupakan ketergantungan terhadap utang luar negeri.
Reformasi ekonomi yang ditawarkan IMF dan Bank Dunia mengakibatkan; pertama, harapan buruh yang sedang menganggur—sekitar 40 juta—untuk mendapatkan pekerjaan baru nyaris lenyap, seiring dengan kuatnya IMF dan lembaga kreditor lainnya dalam mendesak Indonesia melaksanakan program liberalisasi ekonomi. Program liberalisasi ini dapat dilihat secara jelas dalam program swastanisasi BUMN.
Program liberalisasi lainnya dapat dilhat juga dalam LoI (Letter of Intent) untuk mencabut subsidi pada sektor publik; listrik, BBM, air, kesehatan, dan pendidikan. Pengurangan subsidi dimaksudkan untuk mengurangi inflasi. Menurut Sritua Arif, ini merupakan hal yang sangat paradoksikal. Karena di satu sisi, ada upaya untuk menimbulkan situasi deflasi melalui kontraksi moneter, tetapi di sisi lain terjadi proses yang menimbulkan situasi inflasi, yaitu melalui peningkatan harga publik.
Kedua, bebasnya investasi asing ke dalam negeri mengakibatkan terdesaknya ekonomi rakyat kecil. Masuknya investasi asing ke sektor publik disadari atau tidak menjadikan social equality sebagai “trade off” terhadap efisiensi komersial atau efisiensi statis, dan mensubordinasikan konstitusi negara di bawah kepentingan pelayanan untuk investasi asing. Ketiga, dihapusnya ketentuan-ketentuan tentang kebebasan pemilikan asing dapat mengakibatkan pengusaha kecil dan menengah Indonesia dikuasai oleh pihak asing. Maka jangan heran kalau pihak asing menjadikan para penenun di Bali, para pengukir perabot di Jepara, para pembuat keramik di Kasongan, sebagai kuli-kuli mereka.

Penulis adalah Peneliti Lingkar Studi Aksi untuk Demokrasi Indonesia (LS-ADI)

Copyright © Sinar Harapan 2003

http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/Keuangan/2005/0131/keu3.html

May 13, 2008

Penyakit kelamin

Filed under: Penyakit kelamin — indonesia234 @ 1:43 am
Tags:

Penyakit kelamin

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Langsung ke: navigasi, cari

Penyakit kelamin adalah jenis penyakit yang disebabkan oleh kuman yang ditularkan melalui hubungan seks oral maupun melalui hubungan kelamin. Jenisnya bermacam-macam, dari gonorhea, sifilis, herpes, HIV/AIDS, dll.

Sebagian penyakit kelamin sudah dapat disembuhkan, namun untuk penyakit-penyakit tertentu seperti HIV/AIDS sampai kini belum ditemukan obatnya.

Penularan penyakit kelamin dapat dihindari dengan jalan menghindari hubungan kelamin secara sembarangan (seks bebas), dengan setia kepada satu orang pasangan saja, atau dengan menggunakan alat-alat pencegahan seperti kondom.

Penyakit kelamin tertentu dapat disembuhkan dengan pengobatan yang teratur, misalnya dengan antibiotika. Namun demikian, mutasi kuman dapat menghasilkan kuman-kuman yang kebal terhadap pengobatan yang diberikan, sehingga kemudian malah muncul varian yang lebih ganas seperti misalnya Vietnam rose yang muncul di masa Perang Vietnam.

HIV/AIDS dapat pula ditulari melalui penggunaan jarum suntik yang telah tercemar oleh kuman HIV/AIDS, misalnya seperti yang sering dilakukan oleh para pemakai obat bius. Sampai sekarang HIV/AIDS belum dapat disembuhkan. Obat-obatan yang diberikan kepada penderita HIV sampai sekarang baru mampu memperpanjang hidup si pasien.

[sunting] Pranala luar:

Kasus Perkosaan di Jawa Barat Membuat Miris

Pikiran Rakyat , Senin, 21 Nopember 2005

Kasus Perkosaan di Jawa Barat Membuat Miris

Kapolda Edi Darnadi, "Perlu Peran Semua Pihak untuk Mengatasinya"
KASUS pemerkosaan yang terjadi di Jawa Barat, akhir-akhir ini sangat
memprihatinkan. Bahkan kasus perkosaan yang terjadi, sudah semakin brutal.
Masih terpatri dalam ingatan kita, kasus perkosaan yang terjadi di Sukabumi,
awal November 2005 lalu. Sebanyak 35 orang beramai-ramai memerkosa seorang
gadis, NK (19).

Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, pelakunya sudah ditetapkan sebanyak
16 orang. Namun, yang memprihatinkan, 8 pelaku di antaranya ternyata masih
di bawah umur. Mereka pun tidak ditahan di "hotel prodeo" Polresta Sukabumi,
tapi "dititipkan" di orang tuanya masing-masing. Mereka dikenakan wajib
lapor.

Belum reda kasus di Kab. Sukabumi, muncul kasus perkosaan di Kab. Sumedang.
Empat orang kusir delman, lagi-lagi secara beramai-ramai, memerkosa siswi
kelas 2 SMP. Empat pelaku bermoral bejat itu secara bergiliran memerkosa
anak itu di lahan kosong bekas lokasi galian C, di belakang SPBU sekitar
Pasar Tanjungsari. Salah seorang pelaku adalah mantan pacar korban.

Selain kasus perkosaan keroyokan, selama tahun 2005, di Jawa Barat juga
banyak terjadi kasus perkosaan yang dilakukan seorang ayah terhadap anak
tiri, bahkan anak kandungnya. Seorang ayah memerkosa anak tiri terjadi di
Kab. Sukabumi (2 kasus), sementara seorang ayah memerkosa anak kandung
terjadi di Kab. Indramayu. Alasan Yam (32), warga Blok Benda, Desa
Sidamulya, Kec. Bongas, Indramayu yang tega memerkosa anak kandungnya,
karena ditinggalkan istrinya menjadi TKW di Arab Saudi.

Lain lagi dengan pengakuan Her (50), seorang dukun warga Kampung Caringin
Ngumbang, Kel. Sukakarya, Kec. Warudoyong, Kota Sukabumi yang memerkosa 3
anak tirinya. Dia mengaku sengaja memerkosa ketiga anak tirinya sejak lima
tahun silam, untuk menambah kesaktian di samping memenuhi libido seksnya
yang terus meninggi.

Membuat miris

Maraknya kasus perkosaan, termasuk yang dilakukan oleh orang terdekat
korban, membuat miris dan prihatin beberapa aktivis perempuan. Namun,
menurut Hj. Ratnaningsih, yang aktif di Kaukus Politik Perempuan Indonesia
(KPPI) Kab. Bandung, keprihatinan saja tidak cukup, perlu tindak lanjut
untuk mencari solusinya.

"Kasus ini perlu perhatian berbagai pihak, karena banyak hal yang
melatarbelakangi terjadi perkosaan ini. Mungkin saja, hukuman kepada para
pelaku terlalu ringan, sehingga tidak membuat mereka jera. Jadi, kepada
penegak hukum, berilah mereka hukuman yang berat," sarannya.

Aparat penegak hukum juga harus mengantisipasi beredarnya VCD porno, karena
tidak jarang, pelaku melakukan perkosaan karena terangsang setelah melihat
tayangan-tayangan porno. Selain itu, pemerintah juga harus memikirkan
bagaimana mengatasi pengangguran. "Tidak tertutup kemungkinan, karena tidak
mempunyai pekerjaan, lalu menonton VCD porno, terangsang, lantas mencari
sasaran untuk melampiaskan nafsu bejatnya," katanya.

Hal lain yang sering luput dari perhatian, adalah bagaimana memberikan
perlindungan kepada perempuan yang bekerja di pabrik dan pulang larut malam,
atau dini hari. "Perusahaan perlu memikirkan perlindungan kepada mereka.
Mereka rawan menjadi korban perkosaan saat pulang kerja menumpang kendaraan
umum. Jaminan keselamatan kepada mereka, dapat diberikan dengan memberikan
angkutan antar jemput perusahaan," paparnya.

Keprihatinan serupa juga disampaikan aktivis Jaringan Relawan Independen
(JaRI), Teti Rismiyati, yang biasa dipanggil Ceu Teti. Menurut Ceu Teti,
dosen di Fakultas Psikologi Unpad, tindak perkosaan sudah terjadi sejak
manusia ada, dan akan terus terjadi sepanjang manusia ada, karena seks
merupakan kebutuhan mendasar.

Secara psikologi, perkosaan dilakukan seseorang karena kurangnya kontrol
dari si pelaku. Hal ini menunjukkan kedewasaan seseorang kurang terbentuk.
"Salah satu faktor penyebab terjadinya perkosaan adalah adanya stimulus dari
korban. Misalnya, korban memakai pakaian seksi, atau karena bentuk tubuh
korban yang bagus. Stimulus ini memunculkan gairah pada pelaku, sehingga
tidak bisa menahan diri. Perkosaan juga bisa dilakukan oleh seseorang karena
frustasi, sehingga kontrol diri tidak terjadi," katanya.

Para korban perkosaan, juga harus berani menegakkan hukuman bagi pelaku.
Sebab tidak jarang, pelaku pemerkosaan hanya berada di sel selama 20 hari
atau kurang, karena korban menarik perkaranya dengan imbalan uang.
Akibatnya, pelaku dengan bebas mencari korban-korban lainnya. "Keberaniaan
korban juga diperlukan, karena terkadang pelaku memakai power atau becking,
sehingga korban menjadi takut dan menarik perkara," katanya.

Namun, untuk berjaga-jaga, kaum perempuan sejak dini harus dipersiapkan
untuk senantiasa waspada, karena kehidupan di luar itu tidak aman, penuh
ancaman. "Katakan pula, bahwa tidak semua pemerkosa itu wajahnya garang, dan
kalau perlu perempuan juga bisa bela diri. Begitu juga dengan anak
laki-laki, perlu ditekankan sejak dini untuk menghormati dan tidak menyakiti
kaum perempuan," ungkapnya.

Perhatian khusus

Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat (Kapolda Jabar), Irjen Pol. Edi Darnadi,
mengakui, kasus perkosaan yang terjadi di Jawa Barat belakangan ini sudah
menjurus ke tindakan brutal. "Kepolisian bertugas menegakkan hukum. Setiap
pelaku tindak pidana, termasuk perkosaan, tentu akan kita proses sesuai
aturan hukum yang ada. Sedangkan mengapa masyarakat Jabar menjadi demikian,
mengapa para pelaku melakukan perkosaan seperti itu, kita tidak tahu," ujar
kapolda, seusai salat Jumat (18/11) di Polda Jabar.

Menurut Edi Darnadi, untuk mengetahui penyebabnya harus dilakukan penelitian
secara mendalam. Saat ini, ia hanya bisa menerka-nerka saja. "Mungkin karena
pendidikan yang rendah, terbawa-bawa lingkungan atau sebab lain," katanya.

Meski begitu, kapolda menampik kecenderungan itu akibat kenaikan harga bahan
bakar minyak (BBM). Edi menegaskan, angka kriminalitas di Jawa Barat
pascaharga BBM naik, tidak mengalami peningkatan. Begitu pula dengan jenis
kejahatan, tidak muncul jenis kejahatan baru.

Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol. Muryan Faisal, menambahkan, Polda Jabar
memang menaruh perhatian khusus terhadap tindak pidana perkosaan yang
belakangan ini sering terjadi di Jabar. "Setiap tindak pidana yang
menimbulkan keresahan di masyarakat, kita memberikan atensi lebih," ujarnya.

Namun demikian, sebagai aparat penegak hukum, kewenangan petugas kepolisian
hanya sebatas melakukan penindakan terhadap pelanggar hukum termasuk
pemerkosa. Vonis yang berat, misalnya, akan menimbulkan efek jera bagi
pelaku perkosaan. Tapi, hukuman itu tergantung kepada lembaga yang
berwenang.

Karena itu, lanjut kapolda, untuk menekan terjadinya tindak pidana
perkosaan, baik jumlah maupun tingkat kebrutalannya, membutuhkan peran serta
semua pihak. Polda Jabar sendiri akan terus berupaya mengajak semua elemen
masyarakat, khususnya tokoh masyarakat dan tokoh agama, untuk meningkatkan
penyuluhan dan pembinaan kepada masyarakat. (edpur/oyeng/"PR")***

76 Kasus Bunuh Diri karena Miskin

SUARA PEMBARUAN DAILY


76 Kasus Bunuh Diri karena Miskin

YOGYAKARTA – Kemiskinan dan keterdesakan ekonomi diduga merupakan faktor utama penyebab terjadinya 76 kasus bunuh diri di wilayah Jabotabek sejak Januari hingga Agustus 2003 ini. Angka itu diperkirakan masih lebih besar lagi karena banyak kasus bunuh diri tidak dilaporkan atau tidak dipublikasikan ke media massa.

Ketua Dewan Penasihat Center for the Batterment of Education (CBE), Darmaningtyas, Jumat (29/8), di Yogyakarta mengungkapkan, hasil penelitiannya yang dihimpun dari pemberitaan media massa cetak menyebutkan, sebagian besar kasus bunuh diri karena persoalan ekonomi. “Umumnya mereka adalah penduduk miskin atau orang yang sakit tapi tidak sembuh-sembuh sementara untuk berobat tidak punya uang. Mereka kebanyakan tinggal di pinggiran,” katanya.

Sementara itu, di Jakarta Utara dilaporkan, seorang ibu muda yang tengah hamil empat bulan, Eriani Adriani, hari Jumat kemarin juga nekat menggantung diri bersama janin yang dikandungnya akibat tidak mampu melunasi utang kepada seorang rentenir senilai Rp 2,9 miliar.

Pihak kepolisian sektor Cilincing Jakarta Utara hingga Sabtu pagi masih meneliti sebab-sebab Eriani yang tinggal di rumah petak milik Hj Ando Baso di Kampung Siengkang RT 14 RW 03, Kelurahan Cilincing itu melakukan tindakan nekad dengan menggantung dirinya.

Menurut Ketua Dewan Penasihat CBE, tragedi yang menimpa Haryanto, siswa kelas 6 SD Muara Sanding, Garut Kota, merupakan potret dari kasus nekad bunuh diri karena kemiskinan. Haryanto berusaha bunuh diri karena tidak mampu membayar uang ekstrakurikuler di sekolahnya sebesar Rp 2.500. Haryanto, kata Darmaningtyas, adalah kisah nyata atas tragedi kehidupan dan bobroknya sistem pendidikan. “Kasus Haryanto itu bukan kasus yang pertama, sebelumnya juga pernah ada siswa sekolah bunuh diri karena tidak mampu membayar biaya pendidikan,” ucapnya.

Persoalan yang dihadapi, lanjutnya, masyarakat miskin terlebih di perkotaan, semakin hari semakin berat. “Bisa dibayangkan, bagaimana mereka tidak akan tertekan secara psikologis kalau di sekolah diejek teman-temanya karena tidak bisa bayar, sementara orang tuanya betul-betul tidak mampu,” ucapnya.

Dikatakan, kebijakan pemerintah mengenai pendidikan dan perekonomian, selama ini memang tidak pernah memihak pada rakyat miskin. Akses-akses ekonomi, kata dia, juga tidak pernah dirasakan kalangan tak mampu.

Darmaningtyas mengatakan, angka bunuh diri mungkin akan meningkat jika persoalan-persoalan kebutuhan dasar masyarakat susah terpenuhi. Setidaknya, kata dia, ada tiga kebutuhan dasar masyarakat yang harus dipenuhi oleh pemerintah yaitu pangan, kesehatan dan pendidikan.

“Tapi kita lihat, pendidikan sekarang menjadi komoditas dan tidak ada ruang lagi bagi keluarga miskin. Atau kalau toh ada, hanyalah sekolah inpres yang gurunya kadang masuk kadang tidak. Untuk sektor kesehatan juga demikian, puskesmas semakin mahal apalagi rumah sakit, rakyat miskin sudah tidak mampu lagi menjangkaunya. Ini bukan persoalan kultur karena masyarakat malas, tapi ini adalah persoalan struktural,” tegas Darmaningtyas.

Potret kemiskinan saat ini juga terlihat di beberapa kawasan yang dilanda kekeringan. Di sejumlah kabupaten, seperti Bojonegoro (Jatim), Gunung Kidul (DIY), Garut (Jabar), banyak petani yang sudah tidak mampu lagi mengonsumsi beras karena sawah mereka mengalami puso sehingga mereka makan tiwul (nasi yang dibuat dari tepung singkong), gogek (tiwul yang dikeringkan), dan gadung. Banyak pula petani yang menjual ternaknya untuk bertahan hidup dan untuk membeli air untuk keperluan sehari-hari.

Ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr Ali Khomsan mengatakan, di daerah rawan pangan perlu dicermati ancaman kekurangan gizi pada balita dan ibu hamil, sebab jika tidak ditangani dengan serius akan membahayakan generasi berikutnya di daerah itu.

Sehubungan dengan kematian Eriani Adriani, Kepala Unit Satuan Reserse dan Intelijen Polsek Cilincing, Iptu Subowo, mengatakan pemeriksaan terhadap Eriani, yang diduga bunuh diri itu akan difokuskan seputar dua surat yang ditemukan di rumah korban dimana dialamatkan kepada dua orang yakni Jeffri, pacar korban dan pihak keluarga.

Dalam suratnya kepada Jeffri, korban menyatakan kerelaannya kalau pacarnya tersebut kembali kepada pacar lamanya. Sedangkan untuk surat kepada keluarga, korban menyampaikan permohonan maaf karena selama ini ia merasa tidak bisa berbuat banyak untuk membantu keluarga.

Subowo mengatakan, pihaknya akan mengumpulkan bentuk-bentuk tulisan dari korban untuk memastikan apakah benar korban menulis surat sebelum menggantung diri. Adanya informasi bahwa ada pihak lain yang terlibat dalam meninggalnya Eriani, Kanitresintel mengatakan, pihaknya masih menyelidiki.

”Soal pacar korban, akan dimintai keterangannya,” ujar Subowo. Dijelaskan, diduga karena takut ditinggal oleh pacarnya, Eriani gantung diri dirumahnya. Jenazah Eriani ditemukan oleh Jeffri pada Jumat pagi.

Melihat tubuh pacarnya tergantung dalam kondisi mata melotot dan lidah terjulur keluar, Jeffri kemudian berlari keluar rumah, dan sambil berteriak meminta tolong kepada para tetangga.

Petugas keamanan setempat langsung melaporkan kejadian itu kepada Polsek Cilincing. Selain melaporkan kejadian itu, petugas itu juga membawa Jeffri yang melihat langsung kejadian tersebut. Polisi kemudian datang ke lokasi dan membawa tubuh Eriani yang sudah tidak bernyawa lagi ke RSCM untuk diotopsi. (E-7/SKA/L-6)

sumber : http://www.suarapembaruan.com/News/2003/08/30/Utama/ut01.htm

Penyebab Utama Kemiskinan 50.000 Orang Indonesia Bunuh Diri

Berita

Penyebab Utama Kemiskinan

50.000 Orang Indonesia Bunuh Diri

Tri Wibowo Santoso

VHRmedia.com, JakartaSedikitnya 50 ribu orang Indonesia bunuh diri selama tiga tahun terakhir. Kemiskinan dan himpitan ekonomi menjadi penyebab tingginya jumlah orang yang mengkhiri hidup.

Pada acara peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di Jakarta, Senin (8/10), Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti A Prayitno mengatakan, faktor penyebab orang nekat bunuh diri karena kemiskinan yang terus bertambah, mahalnya biaya sekolah dan kesehatan, serta penggusuran. Semua itu berpotensi meningkatkan depresi akibat bertambahnya beban hidup. “Dengan demikian faktor bunuh diri di Indonesia lengkap sudah,” ujar Prayitno.

Menurut Prayitno, berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization yang dihimpun tahun 2005-2007 sedikitnya 50 ribu orang Indonesia bunuh diri. Jumlah kematian itu belum termasuk kematian akibat overdosis obat terlarang yang mencapai 50 ribu orang setiap tahun.

Prayitno mengungkapkan, dari jumlah tersebut, 41% bunuh diri dilakukan dengan cara gantung diri dan 23% dengan cara meminum racun serangga. “Perlu pembatasan akses mendapatkan pestisida, racun dan senjata api,” ujarnya.

Faktor psikologis yang mendorong bunuh diri adalah kurangnya dukungan sosial dari masyarakat sekitar, kehilangan pekerjaan, kemiskinan, huru-hara yang menyebabkan trauma psikologis, dan konflik berat yang memaksa masyarakat mengungsi.

Data Departemen Kesehatan menyebutkan, beberapa daerah memiliki tingkat bunuh diri tinggi, antara lain Provinsi Bali mencapai 115 kasus selama Januari – September 2005 dan 121 kasus selama tahun 2004. Pada 2004 di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, tercatat 20 kasus bunuh diri dengan korban rata-rata berusia 51-75 tahun.

Kasus bunuh diri di Jakarta sepanjang 1995-2004 mencapai 5,8% per 100 ribu penduduk, kebanyakan lelaki. Dari 1.119 orang bunuh diri di ibu kota negara, 41% dengan cara gantung diri, 23% menenggak racun. Selain itu, 256 orang menemui ajal akibat overdosis obat.

Tingginya angka bunuh diri di Indonesia mendekati negara pemegang rekor dunia seperti Jepang mencapai lebih dari 30 ribu orang per tahun dan China yang mencapai 250 ribu orang per tahun.

Untuk mencegah tindakan bunuh diri, kata Prayitno, diperlukan identifikasi dini, terapi yang tepat, serta menekan harga obat antidepresi agar terjangkau pasien miskin yang membutuhkan. Diperkirakan 70% korban sebetulnya pernah berobat ke dokter, minimal dokter umum. Namun, dokter sulit mengenali tanda depresi orang yang akan bunuh diri.

Dalam pidato yang dibacakan Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi Depkes, Krisno Tirtawijaya, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menyatakan perlu segera dilakukan tindakan mengendalikan sakit jiwa.

Agar sehat jiwa raga, pemerintah dan masyarakat harus memperhatikan aspek biologis, fisik, mental, dan sosial budaya. (E1)

http://www.vhrmedia.com/vhr-news/berita-detail.php?.e=883&.g=news&.s=berita

©2008 VHRmedia.com

May 12, 2008

Hello world!

Filed under: Uncategorized — indonesia234 @ 1:27 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

The Rubric Theme Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.